Bagi sebagian orang, istilah ?mengatur? atau ?mengelola? terkesan
?nakal? dan tidak biasa. Pasalnya, hubungan dengan atasan, selama ini
lebih sering bersifat ?top-down?, bukan ?bottom-up?. Jadi, mana mungkin
atasan bisa diatur, kecuali ada sesuatu di balik hubungan itu?
Tapi, beberapa penelitian terkini justru menyebutkan, mengelola atasan
sebaiknya dilakukan. Itulah kesimpulan John P. Kotter dan John
J.Gabarro, dosen Harvard Business School, pada artikel ?Managing Your
Boss di majalah Harvard Business Review beberapa waktu lalu. Pendapat
mereka didasari fakta, efektivitas kerja sama di kantor akan tercapai
apabila para bawahan meluangkan waktu dan berupaya membina hubungan baik
dengan atasannya.
SALAH MEMBACA HUBUNGAN
Kisah sedih dialami Reita Wirawan (33), pekerja berbakat di sebuah biro
iklan. Otak brilian dan ide cemerlang membuat kariernya melesat. Sebagai
karyawan ?bintang?, ia pun memperoleh atasan ?bintang?.
Ory Sandy, atasan yang terkenal kejeniusannya, tak pandai berkomunikasi.
Konflik demi konflik terjadi, sampai akhirnya sebuah iklan yang
diluncurkan gagal di pasar.
Hasilnya, Reita menanggung kesalahan, karena track record Ory
menunjukkan: ia tak punya masalah dengan bawahan-bawahan sebelumnya.
Boleh jadi perusahaan beranggapan, memiliki seorang Ory lebih bermanfaat
ketimbang Reita.
Kisah ini bisa saja dikategorikan sebagai kasus yang melibatkan konflik
personal. Nyatanya, tulis Gabarro dan Kotter, konflik personal hanyalah
sebagian kecil dari masalah.
Dalam analisis mereka, Reita memiliki kepribadian yang berbeda dari Ory,
serta asumsi dan ekspektasi yang tidak realistis akan hubungan
bawahan-atasan. Reita lupa bahwa hubungannya dengan Ory membutuhkan
ketergantungan timbal-balik.
Banyak orang berlaku seolah-olah para atasan tidak membutuhkan bantuan
dan kerja sama dengan bawahannya. Banyak bawahan tidak tahu, atau tidak
mau tahu, para atasan juga dapat terluka dan sakit hati karena perlakuan
bawahannya. Mereka menganggap dirinya sangat mandiri, karena tahu apa
yang terjadi di bawah, sementara mereka tidak menyuplai info kerja yang
diperlukan atasan.
MEMAHAMI ATASAN
Mengelola atasan memerlukan pemahaman akan diri sang atasan. Minimal,
kita perlu menghargai semua tujuan dan tekanan, mengenal kekuatan dan
kelemahannya. Bagaimana cara pandang atasan dalam jangka panjang ataupun
jangka pendek? Lebih jauh, Anda juga perlu memahami gaya bekerja yang
disukai atasan supaya kerja sama dapat lebih efektif.
JANGAN BERMIMPI MENGUBAH ATASAN
Memahami atasan, baru merupakan langkah setengah jalan. Setengahnya
lagi, diri sendiri pun harus dipahami. Dengan memahami diri sendiri,
Anda akan menjadi lebih sadar sifat dan perilaku apa saja yang dapat
memfasilitasi atau merusak hubungan dengan atasan.
Perlu diketahui, kendati hubungan atasan-bawahan bersifat timbal-balik,
dalam banyak kasus terbukti bawahan lebih tergantung pada atasan. Reaksi
instingtif bawahan, berkenaan dengan ketergantungan ini, sering
membuahkan pembangkangan. Mereka melihat atasan sebagai musuh, dan
akibatnya bersedia bertengkar just for the sake of fighting. Bila ini
juga terjadi pada Anda, segeralah kembalikan kesadaran pada keadaan normal.
Memahami diri sendiri membuat Anda lebih dapat mengendalikan diri.
Bagaimanapun perbedaan pendapat dengan atasan, Anda dapat memberi kesan
bahwa Anda menghormati dan menghargainya. Perbedaan pendapat selayaknya
bahwa setiap orang memiliki kacamata tersendiri dalam memandang suatu
persoalan. info lowongan pekerjaan dapat dilihat di klikkarir.com
Rabu, 10 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar